Umum

Little Eye of the Sahara from Borneo: Mengungkap Struktur Geologi Misterius di Jantung Kalimantan

4 Jun 2026 4 menit baca Admin 1 Admin 1
Little Eye of the Sahara from Borneo: Mengungkap Struktur Geologi Misterius di Jantung Kalimantan
Oleh: Fadlin (RockCenter.id)

Di tengah hamparan hutan hujan tropis Kalimantan yang lebat, tersembunyi sebuah bentang alam yang mengundang rasa ingin tahu para ahli geologi. Pada citra topografi digital (DEM) dan hillshade resolusi tinggi, struktur tersebut tampak sebagai pola oval konsentris raksasa dengan serangkaian punggungan dan lembah melingkar yang membentuk "mata" raksasa di permukaan bumi. Bentuknya begitu mencolok sehingga segera mengingatkan pada salah satu fenomena geologi paling terkenal di dunia: Richat Structure atau "Eye of the Sahara" di Mauritania.

Apakah Kalimantan memiliki versinya sendiri dari Eye of the Sahara?

Pertanyaan inilah yang menjadi titik awal eksplorasi ilmiah terhadap struktur unik yang terletak di sekitar wilayah Muarapajang–Moentaiwani. Meskipun hingga saat ini belum terdapat penelitian rinci yang secara khusus membahas fenomena tersebut, analisis morfologi awal menunjukkan bahwa struktur ini memiliki karakteristik yang sangat tidak biasa dibandingkan bentang alam fluvial dan perbukitan umum yang mendominasi sebagian besar wilayah Kalimantan.

 Sebuah Mata di Tengah Hutan Tropis

Dari citra hillshade, struktur tersebut memperlihatkan bentuk oval dengan diameter puluhan kilometer. Beberapa cincin topografi dapat dikenali dengan jelas, membentuk pola konsentris yang mengelilingi bagian tengah yang relatif lebih tinggi. Punggungan-punggungan tersebut tersusun hampir simetris dan tampaknya dikontrol oleh struktur geologi yang mendasari.

Fenomena seperti ini sangat jarang ditemukan. Sebagian besar pegunungan dan perbukitan di Kalimantan terbentuk akibat proses tektonik regional yang menghasilkan pola memanjang berupa antiklin dan sinklin. Sebaliknya, struktur Muarapajang memperlihatkan geometri melingkar yang mengindikasikan adanya pusat deformasi lokal.

Dalam geomorfologi struktural, pola seperti ini sering dikaitkan dengan dome geologi, yaitu suatu struktur kubah yang terbentuk ketika lapisan batuan terangkat ke atas akibat gaya tektonik atau aktivitas magmatik di bawah permukaan. Seiring waktu, jutaan tahun erosi mengikis lapisan-lapisan batuan tersebut dan menyingkap pola cincin yang semakin jelas.

 Kemiripan yang Menakjubkan dengan Richat Structure

Richat Structure di Mauritania merupakan salah satu bentang alam paling ikonik di planet ini. Struktur yang berdiameter sekitar 40–50 km tersebut awalnya dianggap sebagai kawah meteor raksasa. Namun penelitian modern menunjukkan bahwa Richat sebenarnya merupakan dome geologi yang mengalami erosi diferensial selama ratusan juta tahun.

Jika dibandingkan secara visual, terdapat sejumlah kemiripan mencolok antara Richat dan struktur yang ditemukan di Kalimantan:

- Keduanya memiliki bentuk oval hingga melingkar.
- Keduanya menunjukkan pola konsentris berupa ridge dan valley annular.
- Keduanya memperlihatkan indikasi uplift pusat.
- Keduanya memiliki sistem struktur radial dan melingkar.

Perbedaannya terletak pada lingkungan geomorfologi. Richat berada di gurun Sahara yang gersang sehingga lapisan batuan tersingkap dengan sangat jelas. Sebaliknya, struktur Kalimantan tertutup vegetasi tropis yang rapat, membuat karakter geologinya lebih sulit diamati secara langsung.

Karena itulah teknologi penginderaan jauh menjadi alat utama untuk mengidentifikasi fenomena ini.

Bagaimana Struktur Ini Terbentuk?

Hingga penelitian lapangan dilakukan, beberapa hipotesis masih terbuka.

Hipotesis pertama dan paling mungkin adalah bahwa struktur tersebut merupakan dome antiklin besar yang berkembang akibat kompresi regional di dalam sistem Cekungan Kutai. Dalam model ini, lapisan-lapisan batuan sedimen terangkat membentuk kubah raksasa, kemudian tererosi sehingga menghasilkan pola cincin konsentris.

Hipotesis kedua adalah adanya intrusi magmatik bawah permukaan. Tubuh magma yang menyusup ke kerak bumi dapat mengangkat lapisan di atasnya dan membentuk dome. Setelah jutaan tahun erosi, pola annular yang tersisa dapat menyerupai struktur Richat.

Hipotesis ketiga yang lebih spekulatif adalah kemungkinan adanya struktur impak purba. Namun hingga saat ini belum ada bukti geologi yang mendukung interpretasi tersebut, seperti keberadaan shocked quartz, shatter cone, ataupun anomali geofisika khas kawah tumbukan.

Dengan demikian, interpretasi sebagai dome struktural tererosi masih menjadi penjelasan yang paling masuk akal.

Laboratorium Alam yang Belum Tersentuh

Jika keberadaan struktur ini dapat dikonfirmasi melalui penelitian lapangan, maka kawasan tersebut berpotensi menjadi laboratorium alam yang sangat berharga bagi ilmu kebumian Indonesia.

Struktur dome dan ring-fault system sering berperan penting dalam berbagai proses geologi, termasuk:
  • pembentukan perangkap hidrokarbon,
  • migrasi fluida hidrotermal,
  • mineralisasi logam,
  • pembentukan sistem rekahan regional,
  • serta evolusi cekungan sedimen.

Tidak menutup kemungkinan bahwa struktur ini juga memiliki hubungan dengan proses mineralisasi yang belum teridentifikasi sebelumnya.

Selain nilai ilmiah, fenomena ini juga memiliki nilai edukasi dan geowisata yang tinggi. Bayangkan sebuah "mata bumi" raksasa yang tersembunyi di bawah kanopi hutan tropis Kalimantan, menunggu untuk dipahami melalui kombinasi geologi, geomorfologi, geofisika, dan teknologi satelit modern.

 Little Eye of the Sahara from Borneo

Penemuan awal melalui citra topografi ini menunjukkan bahwa masih banyak misteri geologi yang tersimpan di wilayah tropis Indonesia. Selama beberapa dekade, perhatian dunia tertuju pada Richat Structure di Afrika Barat. Namun kini, sebuah struktur yang memiliki kemiripan morfologi luar biasa muncul dari jantung Pulau Kalimantan.

Apakah ini benar-benar "Little Eye of the Sahara from Borneo"?

Jawabannya masih menunggu penelitian lebih lanjut. Namun satu hal sudah pasti: struktur ini merupakan salah satu anomali geomorfologi paling menarik yang pernah dikenali di Kalimantan, dan berpotensi menjadi temuan penting dalam studi evolusi geologi Asia Tenggara.

Mungkin, di balik hamparan hutan hujan tropis yang tampak tenang, tersimpan kisah geologi yang telah berlangsung selama puluhan juta tahun—sebuah kisah yang baru mulai terungkap.

Galeri